Suaramediajabar.com – Jakarta, 19 Juni 2026 – Dalam rangka menyambut perayaan Peh Cun atau Duanwu Jie yang jatuh pada hari kelima bulan kelima dalam Kalender tradisional Tiongkok, Pantjoran PIK menghadirkan Festival Bacang Pantjoran PIK pada 19 hingga 21 Juni 2026. Selama tiga hari, pengunjung dapat menikmati beragam pengalaman budaya, mulai dari mencicipi ragam bacang Nusantara hasil kreasi UMKM dari berbagai daerah di Indonesia, mengikuti workshop dan aktivitas interaktif, hingga mengenal kisah para pelaku usaha bacang yang menjaga tradisi ini tetap hidup dari generasi ke generasi.
Perayaan Peh Cun telah diwariskan selama lebih dari dua milenium dan identik dengan tradisi menyantap bacang, perlombaan perahu naga, serta berbagai kegiatan yang merefleksikan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Melalui festival ini, Pantjoran PIK mengajak masyarakat untuk melihat bacang bukan hanya sebagai hidangan khas, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan budaya yang terus berkembang dan berakulturasi di Indonesia. Nilai historis Peh Cun berakar pada kisah Qu Yuan, seorang penyair dan negarawan dari Disnasti Chu yang dikenal karena integritas dan kesetiaannya kepada tanah air. Menurut legenda, setelah mengetahui negaranya jatuh ke tangan musuh, Qu Yuan memilih mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo sebagai wujud kesetiaan dan kepeduliannya terhadap nasib bangsanya. Masyarakat yang menghormatinya kemudian bergegas mengayuh perahu untuk mencari Qu Yuan sambil melemparkan bungkusan nasi ke sungai agar ikan tidak memakan jasadnya. Tradisi inilah yang diyakini menjadi asal usul perlombaan perahu naga dan sajian bacang yang hingga kini identik dengan perayaan Duanwu Jie atau Festival Peh Cun.
Di Indonesia, tradisi tersebut berkembang melalui proses akulturasi yang panjang dan melahirkan beragam interpretasi bacang di berbagai daerah. Dari generasi ke generasi, bacang tidak hanya diwariskan sebagai kuliner, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, memori keluarga, dan identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat modern. 3 Hari Perayaan Bacang Fest 2026 di Kawasan Pantjoran PIK Selama tiga hari penyelenggaraan, Bacang Fest 2026 menghadirkan beragam pengalaman yang memadukan budaya, kuliner, dan hiburan dalam satu perayaan. Mulai dari mencicipi aneka bacang, menjelajahi aktivitas budaya, hingga menikmati pertunjukan musik, setiap program dirancang untuk dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Selain rangkaian program budaya, pengunjung juga dapat menikmati beragam aktivitas pendukung seperti Tarot Reading, Palmistry, dan Aura Cleansing yang dihadirkan untuk melengkapi pengalaman festival. Suasana semakin semarak dengan penampilan spesial dari Kevin Music School yang menyuguhkan berbagai pertunjukan musik dan vokal sepanjang acara.
Dukung UMKM Kuliner Nusantara Melalui Kompetisi Bacang. Salah satu daya tarik utama Festival Bacang Pantjoran PIK 2026 adalah Kompetisi Bacang yang diikuti oleh 15 UMKM dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui ajang ini, para peserta bersaing memperebutkan predikat sebagai bacang terbaik sekaligus menunjukkan kekayaan cita rasa dan tradisi yang telah berkembang di berbagai penjuru Nusantara.
Setiap peserta menghadirkan kreasi dengan karakter khas yang merefleksikan akulturasi kuliner Tionghoa di Indonesia.
Lebih dari sekadar kompetisi, inisiatif ini menjadi bentuk apresiasi terhadap para pelaku UMKM yang terus menjaga dan mengembangkan warisan kuliner bacang. Melalui resep yang diwariskan lintas generasi maupun inovasi yang lahir dari perkembangan zaman, setiap karya mencerminkan kekayaan budaya yang patut dilestarikan. Sejalan dengan hal tersebut, Kompetisi Bacang menjadi bagian dari komitmen Pantjoran PIK dalam mendukung pertumbuhan UMKM kuliner Nusantara dengan menghadirkan ruang promosi yang mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat luas sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Dari seluruh peserta, lima UMKM terpilih sebagai pemenang, yaitu Ang Huat Kembang Jaya, Bacang JJL, Hao Kitchen, Bacang Lotus, dan Bacang Oma Lili. Kelimanya akan membuka stan khusus di area depan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) selama festival berlangsung. Pengunjung diajak menjelajahi beragam cita rasa bacang, mulai dari resep turun temurun yang diwariskan lintas generasi hingga kreasi baru yang mencerminkan dinamika kuliner masa kini. Pilihan bacang yang tersedia pun beragam, mencakup varian Halal, Non-Halal, maupun vegan, sehingga dapat dinikmati oleh lebih banyak pengunjung sesuai dengan preferensi masing-masing.
Tidak hanya menikmati hidangannya, pengunjung juga bisa berinteraksi langsung dengan para pemenang untuk mendengarkan kisah di balik perjalanan usaha mereka, warisan kuliner yang dijaga, serta dedikasi dalam melestarikan tradisi bacang.
“Bacang Fest 2026 kami hadirkan sebagai perayaan yang menghubungkan budaya, komunitas, dan kreativitas.
Selain menghadirkan berbagai pengalaman yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga, kami juga ingin memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan kekayaan cita rasa bacang Nusantara sekaligus berbagi cerita dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Stephanus Adrianta selaku Operational Manager Pantjoran PIK.
Rangkaian Event Bacang Fest di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) Ikut memeriahkan Bacang Fest 2026, Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) menghadirkan serangkaian program yang memadukan budaya, kreativitas, dan pengalaman interaktif. Melalui berbagai aktivitas yang terinspirasi dari tradisi Peh Cun, pengunjung diajak mengenal lebih dekat makna di balik salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa.
Salah satu program unggulan adalah Bacang Tasting yang akan berlangsung pada 19 hingga 21 Juni 2026 pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Selama program ini, pengunjung berkesempatan mencicipi bacang dari lima UMKM pemenang kompetisi sekaligus menikmati sajian teh gratis dari Ming Bao Ji. Seluruh pengalaman ini dapat dinikmati tanpa biaya tambahan oleh setiap pemegang tiket masuk Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, sehingga menjadi kesempatan istimewa untuk mengeksplorasi cita rasa dan tradisi kuliner Peh Cun dalam satu kunjungan. Sementara, pada 20 Juni 2026, Chinese Calligraphy Workshop mengajak peserta mempelajari seni menulis karakter Tionghoa menggunakan kuas tradisional. Keseruan berlanjut pada 21 Juni 2026 melalui workshop Bacang Treasures dan Decorate Your Own Dragon Boat yang dirancang khusus untuk dinikmati anak-anak serta keluarga.
Dalam kegiatan ini pengunjung dapat membuat bacang mini berisi “harta karun” sekaligus menghias dan mengarungkan perahu naga mini di Kolam Guan Gong di Pantjoran PIK. Seluruh aktivitas tersebut sudah termasuk tiket masuk ke Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, sehingga pengunjung juga dapat menikmati berbagai koleksi dan pameran budaya yang tersedia selama festival berlangsung.
“Bacang Fest 2026 kami hadirkan sebagai perayaan budaya yang dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Melalui berbagai aktivitas yang interaktif dan edukatif, kami ingin memperkenalkan tradisi Peh Cun dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan relevan bagi masyarakat masa kini, sekaligus mengajak pengunjung untuk menjelajahi koleksi budaya yang ada di GBTI,” ujar Mitha Budhyarto selaku Kurator Galeri Budaya Tionghoa Indonesia.
Melalui Bacang Fest 2026, Pantjoran PIK mengundang masyarakat untuk merasakan perpaduan antara tradisi, kuliner, dan kreativitas dalam satu perayaan yang menghadirkan pengalaman budaya, cita rasa autentik, serta kisah inspiratif dari para pelaku UMKM. Festival ini menjadi ruang untuk menikmati kekayaan budaya Tionghoa yang terus berkembang di Indonesia sekaligus merayakan keberagaman yang hidup di tengah masyarakat.
Informasi mengenai berbagai kegiatan di Pantjoran PIK dan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) dapat dilihat melalui Instagram @PantjoranPIK dan @GaleriBudayaTionghoaIndonesia.id. (By)