Suara Media Jabar | Informasi Pemasangan Iklan Hub: 081291999600
: :

PNJ Dorong Peningkatan Nilai Jual Cabai Gendot Lewat Inovasi Kemasan Etilen Scavenger

Suaramediajabar.com, Bandung – Program Studi Teknologi Industri Cetak Kemasan (TICK) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) memperkenalkan inovasi teknologi kemasan aktif Etilen Scavenger kepada petani cabai gendot di Rancaupas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Inovasi tersebut diharapkan mampu memperpanjang masa simpan hasil panen sekaligus meningkatkan nilai jual produk di pasaran.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Lektor (PkML) bertajuk “Pemberdayaan Petani Cabe Gendot melalui Teknologi Kemasan Aktif Etilen Scavenger untuk Perpanjangan Masa Simpan dan Peningkatan Pemasaran” yang dipimpin oleh Deli Silvia, S.Si., M.Sc., bekerja sama dengan Bandung Farmer sebagai mitra pelaksana.

Program ini hadir sebagai solusi atas tantangan yang selama ini dihadapi petani cabai gendot, terutama terkait penurunan kualitas produk setelah panen. Sebagai buah klimaterik, cabai gendot tetap mengalami proses pematangan meski telah dipanen, sehingga sering kali tiba di tangan konsumen dalam kondisi kurang segar bahkan mengalami pembusukan.

Melalui kegiatan tersebut, tim dosen PNJ memperkenalkan teknologi kemasan aktif Etilen Scavenger yang mampu menyerap gas etilen penyebab percepatan proses pematangan buah. Teknologi ini memanfaatkan kombinasi tanah liat dan kalium permanganat (KMnO₄) yang dikemas dalam bentuk sachet kecil menyerupai kantong teh dan ditempatkan di dalam kemasan cabai.

Dosen Program Studi TICK PNJ, Pormauli Gultom, S.Si., M.T., menjelaskan bahwa keberadaan sachet penyerap etilen mampu menjaga kualitas produk selama proses distribusi.

“Dengan teknologi kemasan aktif ini, petani tidak hanya menjaga kesegaran produknya lebih lama, tetapi juga membuka peluang distribusi yang lebih luas dengan nilai jual yang lebih baik,” ujar Pormauli dalam keterangan pers, Selasa (21/7/26).

Selain menjelaskan prinsip kerja teknologi tersebut, tim juga memaparkan hasil perbandingan umur simpan cabai yang menggunakan kemasan aktif dengan kemasan konvensional. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi tersebut mampu mempertahankan kesegaran produk lebih lama sehingga berpotensi mengurangi kehilangan hasil pascapanen.

Tak hanya menerima materi, para peserta juga mengikuti sesi praktik pembuatan dan penggunaan kemasan aktif yang dipandu langsung oleh Ketua Pelaksana, Deli Silvia, S.Si., M.Sc. Dalam sesi tersebut, para petani memperoleh pengalaman langsung mengenai cara mengaplikasikan teknologi kemasan pada produk cabai gendot.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan mengenai penerapan teknologi kemasan pada komoditas pertanian lainnya turut dibahas dalam sesi diskusi interaktif.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim PNJ menyerahkan sejumlah bantuan kepada Bandung Farmer berupa kemasan aktif Etilen Scavenger, desain label kemasan baru, serta beberapa peralatan pendukung produksi. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada mitra.

Ketua Pelaksana PkML, Deli Silvia, S.Si., M.Sc., berharap inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para petani.

“Kami berharap teknologi yang kami perkenalkan hari ini dapat benar-benar diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi Bandung Farmer, baik dalam menjaga kualitas produk maupun dalam meningkatkan pendapatan,” kata Deli Silvia.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut juga melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Cetak Kemasan PNJ yang berperan aktif selama pelaksanaan program, mulai dari persiapan hingga pendampingan praktik di lapangan.

Melalui Program PkML ini, PNJ menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha pertanian diharapkan terus berkembang sehingga pemanfaatan teknologi kemasan modern dapat semakin luas dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan daya saing produk pertanian lokal. (Ad)

Share to Social Media:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *