Suaramediajabar.com, Bekasi – Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berencana mengajukan pembangunan steel sheet pile (SSP) atau turap baja sebagai tanggul permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum kepada pemerintah pusat. Langkah ini dilakukan sebagai upaya jangka panjang dalam mencegah banjir serta jebolnya tanggul di wilayah rawan.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan pembangunan turap baja dinilai lebih kuat dan andal, seperti yang telah diterapkan di kawasan Kalimalang.
“Saya akan mengajukan ke pusat. Saya ingin seperti yang di Kalimalang, namanya SSP,” ujar Asep di Cikarang, Kamis (29/1).
Asep menjelaskan, saat ini Pemkab Bekasi tengah memproses rancang bangun rinci atau detail engineering design (DED) pembangunan turap baja di bantaran Sungai Citarum. Infrastruktur tersebut direncanakan dibangun di tiga kecamatan, yakni Muaragembong, Pebayuran, dan Cabangbungin.
Berdasarkan data yang ada, tercatat lima titik tanggul kritis di Kecamatan Muaragembong, serta empat titik di wilayah Pebayuran dan Cabangbungin yang masuk dalam kategori rawan.
“Saat ini tercatat ada lima titik tanggul di Muaragembong dan empat titik di Pebayuran serta Cabangbungin yang masuk kategori kritis,” katanya.
Ia berharap, pembangunan tanggul permanen berbahan baja tersebut dapat mencegah atau setidaknya meminimalisasi dampak bencana ketika debit air Sungai Citarum meningkat, terutama saat musim hujan dan pasang air laut.
Sambil menunggu pembangunan permanen, Pemkab Bekasi terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) untuk melakukan penanganan sementara pada titik-titik tanggul kritis.
“Saya sudah bicara dengan BBWSC, anggaran sudah disiapkan. Kita ingin dilakukan secepat mungkin sebagai langkah preventif, jangan sampai nanti jebol lagi,” tegas Asep.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSC, Jaya Sampurna, menjelaskan bahwa kondisi air di wilayah hilir Sungai Citarum tampak tinggi meski kiriman air dari hulu relatif kecil. Hal tersebut dipicu oleh curah hujan ekstrem di wilayah setempat serta banjir rob yang menahan aliran air menuju muara.
“Mungkin karena hujan besar di kawasan ini, selain itu ada banjir rob yang menahan laju air. Sehingga walaupun air di hulu kecil, tetapi di sini kelihatan besar,” jelasnya.
Menurut Jaya, penanganan tanggul di Kecamatan Muaragembong cukup kompleks. Selain curah hujan tinggi, karakteristik wilayah pesisir menyebabkan air laut menahan aliran sungai sehingga permukaan air tetap tinggi.
Berdasarkan data teknis BBWSC, meski aliran dari Waduk Jatiluhur relatif kecil, debit air di Kedung Gede tercatat mencapai 730 meter kubik per detik. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik tanah aluvial di wilayah tersebut.
“Tanah aluvial berasal dari endapan, sehingga penanganannya harus ekstra. Kita harus menghitung pengaruh rob dan melakukan simulasi agar turap permanen yang dibangun benar-benar andal,” ujarnya.
Jaya menambahkan, kondisi tanggul kritis di Kecamatan Muaragembong telah terjadi sejak awal Januari 2026. Sejumlah titik dilaporkan mengalami jebol dengan luas area bervariasi antara 10 hingga 20 meter, serta tingkat kerawanan mulai dari sedang hingga tinggi.